Sebuah refleksi di akhir statusku sebagai seorang mahasiswa. Refleksi ini berjudul:
7 Semesta
Semesta
Pertama
Saat-saat
perasaan berbolak-balik antara satu dengan yang lainnya. Meniti jalan panjang
menuju satu semesta yang samar di depan. Kagum, kecewa, terpana, tertunduk lesu
mengiringi jejak yang harus mulai terukir. Berkumpul bersama yang tak dikenal,
mencoba untuk mengenal, berujung pada sok kenal, tapi kebahagiaan akan selalu
dating karena di situ ada persahabatan. Tenang serasa bukan tenang, nyaman
melangkah seperti tak melangkah. Tak ada yang bisa dianggap susah selain bunyi
perut yang selalu berubah. Teman datang, teman pergi bukan lagi sesuatu yang
mengejutkan. Tetapi pada akhirnya, sebuah perpisahan tetaplah menyedihkan.
Menjelang
Semesta Kedua: Rona
kematian serasa menohok ulu hatiku, mengoyak perih jantungku, menyesaki otakku dengan
pikiran-pikiran tak tentu, menggoyahkan segala pondasi langkahku, terhuyung,
terbelenggu, satu per
satu.
Semesta
Kedua
Berharap
pada kemurahan hati, berharap pada sentimen sedih, tapi tak ingat pada Yang
Maha Kasih, tiada hasil, tiada belas kasih. Saat kembali, aku mengerti dan aku
berpasrah diri. Dan akhirnya janji Yang Maha Tinggi selalu ditepati.
Selalu
ada yang takkumengerti hingga kini.
Di tempat
yang kini terjejak, pilihan yang dulu terasa bagai karang yang kokoh kini
serasa angin di musim kemarau. Kering, menyebarkan hawa panas namun bertahan
adalah keniscayaan. Mencoba mengurung yang tak kumengerti dalam kesibukan
seperti kesombongan akan kerendahdirian. Pelan-perlahan waktuku berputar bagai
roda komidi putar. Berputar tapi selalu kembali ke titik awal. (Ada yang mulai
berubah, ada yang mulai mencengkeram, membuatku merasakan nafas baru, meski
saat itu aku tak tahu). Tetapi hidup haruslah maju meski harus selambat laju
siput, sependek langkah kura-kura. Aku tetap harus maju, meski harus menanggung
beban waktu.
Semesta
Ketiga
Cerita
bermula dengan perAsaan ingin menguasai hatiku karena seiring cerita selalu ada
datang rasa cinta. Rasa itu adalah rasa yang berkembang pada sebuah cerita masa
lalu. Dua matahari yang telah datang silih berganti namun kini keduanya
menerangi salah satu sudut hatiku hingga kini, mungkin selamanya, tak akan
hilang.Meskipun kelak datang matahari ketiga, akan selalu begitu. Hatiku adalah
burung hantu, kau tahu tapi kau tidak tahu. Kau tidak tahu tapi kau tahu. Cukup
gelap untuk menyembunyikan yang terdalam.. Setidaknya aku harus tetap maju meski
aku tahu kegelapan hatiku tak sepenuhnya diterangi. Aku harus tetap berjalan
karena kalau tidak aku adalah beban bagi sebuah zaman.
Semesta
Keempat
Aku kini
di ujung semesta terakhirku (semestinya). Aku merasa tetap harus menanggung
beban itu meski seharusnya aku tak merasa menanggungnya sendirian. Aku ingin
berhenti merasakan itu karenanya aku menanggung beban lain sehingga aku bisa
berbagi dengan yang lain. Aku mencoba mencari, mengais segala detik waktu agar
memihakku. Ternyata kaisanku pada waktu membawaku ke persimpangan yang
menuntunku pada ujung semsta yang terlihat namun tak tergapai, lengang namun
penuh gelisah hingga kakiku pun serasa hampa melangkah.
Semesta
Kelima
Jantungku
berdetak tapi tak ada darah dalam nadiku. Nadiku berdenyut tapi hampa. Terang
tanah tak lagi seperti tanah. Aku menabrak kesana kemari, mencari arti pada
setiap apa yang terlihat meski aku tahu (ah, mungkin aku sebenarnya tidak tahu)
bahwa hal itu hanya akan menorehkan luka. Satu hal yang aku tahu, saat itu aku
harus menghilangkan satu tali gantungan dari orang yang paling kusayang,
kucintai, dan kuhormati.
Semesta
Keenam
Kosong.
Dalam sepi aku sendiri. Beranjak ke keramaian aku merasa orang tak peduli. Tapi
kemudian aku melihat itu,,,rasa sayang, kasihan, kepedulian di dalam hati
setiap yang mengenalku. Karenanya aku berterima kasih untuk itu, karena semua
itu telah jadi pelita di salah satu sudut hatiku. Sayang, Hatiku adalah ruang
yang begitu banyak sudut-sudut tergelapnya tak tersentuh cahaya. Karena itu,
Maafkan aku
Semesta
Ketujuh
Dentang
waktu memaksaku, mau tak mau membawaku ke kursi pesakitan. Aku mencoba berjalan
dengan kokosongan hatiku, kekosongan waktu2ku, mencoba mengisinya dengan
ketakutan akan kesia-siaan, memenuhinya dengan keraguan akan semesta di depan,
menerangi hatiku dengan ancaman meski aku tahu terang itu tak seindah cahaya
pelita, tak secerah cahaya matahari, lebih-lebih tak sebanding dengan Do’a
ibuku, sehingga tetap saja aku berjalan perlahan. Namun aku tetap bersyukur
untuk itu. Untuk semua yang membuatku berjalan menggapai ujung 7 semesta,
berjalan hingga titik penentuan pengetokan palu hakim akan 7 semesta yang telah
kujelajahi satu jalannya. Menuju Semesta Berikutnya.

Sebuah Refleksi, antara ketertarikan dan keterkaitan, kehidupan, perjalanan 'cara memandang' dan 'cara merasakan' dari seorang mahasiswa.
BalasHapusSatu kata 'menarik'.
7 Semester
BalasHapus